Senin, 19 September 2011

Sangat Menyusahkan

“Yes! bisa pulkam lebih cepat!” kata teman saya yang menantikan kepulangannya ke kampong halaman. Tapi wajahnya langsung masam ketika dosen memberikan tugas yang banyak. “minggu tenang kali ini aku gak bisa pulang nih” dengan nada kecewa. Kontras dengan keadaan semula yang tadinya senang menyambut hari libur. Seringkah kita seperti ini? Merasa dosen tidak adil, memberi tugas yang memberatkan, memforsir pikiran mahasiswa, hanya menyusahkan. Padahal semua yang tugas yang diberikan juga demi kebaikan mahasiswa. Tapi, yang namanya manusia ya seperti itu, tidak suka akan orang yang menyusahkan. Hello… hidup bukan hanya untuk santai-santai bung! Orang yang menyusahkan sebenarnya ada untuk memperbaiki kelemahan kita. Baik anda sadar atau tidak, ketika kita disusahkan oleh orang lain hal itu memberi pelajaran bagi kita, memperbaiki kelemahan kita. Kita merasa susah karena kita merasa harus lebih berusaha dan tak bisa berleha-leha menikmati kehidupan. Ada cerita dari teman saya. Dia suka bulu tangkis dan dia lemah pada sisi kiri. Dia mendapat teman main yang mengetahui kelemahannya dan dia merasa orang ini menyusahkan sekali!. Tapi setelah dia sering bertanding dengannya, tanpa dia sadari sedikit demi sedikit dia dapat menguasai sisi kiri dari tubuhnya. Jadi, apakah kita masih tidak suka dengan dosen yang menyusahkan? Apakah tidak suka kepada orang-orang disekitar kita yang sering menyusahkan juga? Seharusnya kita bersyukur dengan adanya mereka yang menjadikan kita lebih baik walaupun menurut kita sangat menyusahkan. Tapi jujur itu sulit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar